Mengatasi Benih Terjebak Cangkang (Helm)

Pernahkah kamu ketika menyemai benih tanaman, entah itu cabe, tomat, jenis-jenis melon dan sebagainya, lalu cangkang benihnya (helm) tidak mau lepas? Kalau saya sih sering banget, apalagi jika menyemai cabe, cangkang yang cenderung keras tidak mau lepas sehingga daun kotiledon terjebak di dalam. Tidak jarang, si cabe mungil tersebut harus merelakan dirinya membusuk lalu beristirahat ke alam baka, hiks 😦 . Yang paling bikin bete ituuuu, kalau benih yang disemai adalah benih-benih unik yang mahal bingiiit, seperti cabe dan tomat impor, doohhh!!

Penyebabnya apa?

  • Benih disemai kurang dalam

Idealnya, benih dipendam kira-kira 1 cm di dalam media semai (bisa jadi lebih dalam), sehingga ketika saatnya tiba, media semai dapat menahan cangkang benih cukup baik, sehingga cangkang tertahan di dalam media dan daun kotiledon bebas melepaskan diri.

  • Media semai kurang lembab

Kelembaban media semai sangat penting dijaga. Selain untuk menghindari gagalnya benih untuk berkecambah, juga untuk melembutkan cangkang bibit sehingga mudah lepas.

Bagaimana cara mengatasinya?

  • Just let it be, biarkan alam yang ikut campur dalam prosesnya 😀
  • Beri tetesan air pada cangkang benih agar lembab dan hindarkan dari sinar matahari. Jika jebakan tidak terlalu parah, cara ini efektif banget. Tinggal tarik saja cangkang kotiledon dengan hati-hati sampai terlepas, jangan sampai putus
  • Diberi air ludah aka saliva. Katanya saliva mengandung enzim yang dapat melembutkan si helm sehingga gampang ditarik.

Jika jebakan cukup parah, cara terekstrim yang saya gunakan yaitu memotong pinggiran cangkang dengan gunting kuku. Resikonya sih nanti daun yang keluar jadi codet dimana-mana. Tapi ya ga apalah, daripada bibitnya busuk 😛

So, selamat bereksperimen teman-teman. Resiko tanggung sendiri ya, hehehe #peace 😀

Advertisements

Hidroponik VS Organik

Akhir-akhir ini sering terjadi perdebatan antara apakah hidroponik itu adalah organik, dan mana yang lebih sehat antara sayuran hidroponik dan organik. Banyak yang mempermasalahkan kandungan nutrisi hidroponik yang merupakan bahan kimia total. Sementara bagi masyarakat awam yang kurang mengenal hidroponik, sayuran yang ditanam dengan metoda apa saja, asalkan TIDAK menggunakan pestisida, adalah sayuran organik.

Well, saya sebagai hidroponik lovers tidak akan mengatakan bahwa sayuran hidroponik itu termasuk dalam golongan organik ya, karena nyatanya pemupukannya menggunakan bahan-bahan kimia, walaupun rata-rata FREE dari pestisida kimia karena ditanam di GH, maupun menggunakan pestisida nabati sebagai penolak hama . Sementara sayuran organik adalah sayuran yang murni menggunakan bahan-bahan alami yang tersedia dari alam, baik itu melalui pukan, MOL, kompos dan sebagainya yang termasuk dalam kategori alami.

Namun, jika ditanya pendapat saya secara pribadi, tentang manakah yang lebih sehat, saya lebih suka sayuran hidroponik. Selama menanam sayuran hidro, terbukti sayuran yang saya tanam lebih mulus, bebas bolong-bolong (katanya seeeeh, makin bolong-bolong makin organik, hahaha males deh makan sayur bekas ulat :mrgreen: ), bebas pestisida dan pastinya bebas CACING. Uhukkkk, ini yang paling bikin saya malas nanam sayur dengan media tanah, saya paling males sama yang namanya cacing. Bukannya takut, tapi geli aja!

Banyak juga yang bertanya di sekitar lingkungan saya, apakah tomat yang saya tanam belakangan ini termasuk tomat organik. Jawabannya tergantung mood saya, kalau saya lagi males jelasin sama si penanya tentang apa itu hidroponik, ya saya jawab organik. Namun, jika saya punya banyak waktu luang untuk menjawab pertanyaan seputar hidroponik, saya akan bilang “Bukan, ini tomat hidroponik, hanya saja bebas pestisida”. Orang-orang disini akan jawab “Ooh, organik namanya itu, kan tidak pakai pestisida”. Nah lho?

 

Tips Menyemai Cabe dengan Rockwool

Menanam cabe ituuuuu, gampang-gampang susah. Apalagi soal hama yang menghampiri, aduhh bikin geleng-geleng kepala. Tapi, tetap saja saya tidak kapok mau menyemai lagi, walaupun sebelum-sebelumnya sudah bilang tobat dengan yang namanya cabe karena tingkat keberhasilannya di tangan saya hanya 30:70 saja.

Sebenarnya nyemai cabe tidak susah kok, asalkan seednya fresh, seminggu juga sudah keluar ekornya. Akan tetapi khusus untuk cabe super pedas, biasanya membutuhkan waktu yang lebih lama (saya pernah nyemai bhut jolokia tumbuhnya sebulan!). Semakin pedas jenis cabe, semakin susah perawatannya. Begitu juga sebaliknya, biasanya jenis-jenis cabe hias atau ornamental tidak membutuhkan perawatan yang begitu ekstra, hehehe 😀

Nah, cara menyemai yang saya pakai terakhir ini cukup memuaskan.

  1. Pertama-tama, rendam biji cabe dengan irisan bawang merah untuk mempercepat proses germinasi. Karena saya memiliki seed yang fresh, saya tidak perlu merendam (kehabisan plastik ziplock 😛 )
  2. Sembari merendam, siapkan label bibit cabe dengan cara diketik – print – gunting – laminating.
  3. Benamkan biji cabe ke dalam rockwool yang telah dibasahi sebelumnya. Tips meletakkan benih di dalam rockwool sendiri ada dua macam, ada yang di geletakkan saja di atas rockwool, ada yang nanamnya berdiri sealur dengan rockwool (aduh apa ya istilahnya, moga mengerti ya temans). Sampai saat ini, seed yang dibenamkan sambil berdiri, germinasinya jauh lebih baik daripada yang hanya ditaroh saja, karena dapat mengurangi tingkat kegagalan benih akibat terjebak oleh cangkangnya.
  4. Letakkan semaian di dalam tupperware, lalu tutup kotaknya.
  5. Taruh di atas UPS, CPU, atau apa aja yang hangat). Cara ini manjur lho, jangan khawatir rockwool akan kekeringan karena air yang menguap karena panas yang dihasilkan oleh UPS akan mengembun lagi jatuh ke rockwool.
  6. Cek keadaan bibit 2-3 hari kemudian
  7. Jika sudah ada yang muncul kecambah, segera pindahkan dari luar kotak dan letakkan di tempat yang terkena cahaya (jangan kena matahari langsung ya, nanti hangus) untuk mencegah bibit etiolasi (kurus, tinggi dan langsing).
  8. Setelah muncul daun sejati 2-3 helai, pindahkan bibit ke polibag kecil untuk pembesaran. Jika bibit telah berdaun 6-7 helai, pindahkan bibit ke polibag besar
  9. Siap untuk dibesarkan 😀

 

Nah, gampang kan untuk menyemai cabe? Kalau soal memelihara cabe sampai berbuah, itu perkara lain, hihihi… Ditunggu ya update perkembangan cabenya 😀

Tips Menyemai Cabe dengan Rockwool

Cabe Hidroponik

Menanam cabe ituuuuu, gampang-gampang susah. Apalagi soal hama yang menghampiri, aduhh bikin geleng-geleng kepala. Tapi, tetap saja saya tidak kapok mau menyemai lagi, walaupun sebelum-sebelumnya sudah bilang tobat dengan yang namanya cabe karena tingkat keberhasilannya di tangan saya hanya 30:70 saja.

Sebenarnya nyemai cabe tidak susah kok, asalkan seednya fresh, seminggu juga sudah keluar ekornya. Akan tetapi khusus untuk cabe super pedas, biasanya membutuhkan waktu yang lebih lama (saya pernah nyemai bhut jolokia tumbuhnya sebulan!). Semakin pedas jenis cabe, semakin susah perawatannya. Begitu juga sebaliknya, biasanya jenis-jenis cabe hias atau ornamental tidak membutuhkan perawatan yang begitu ekstra, hehehe 😀

Nah, cara menyemai yang saya pakai terakhir ini cukup memuaskan.

  1. Pertama-tama, rendam biji cabe dengan irisan bawang merah untuk mempercepat proses germinasi. Karena saya memiliki seed yang fresh, saya tidak perlu merendam (kehabisan plastik ziplock 😛 )
  2. Sembari merendam, siapkan label bibit cabe dengan cara diketik – print – gunting – laminating.
  3. Benamkan biji cabe ke dalam rockwool yang telah dibasahi sebelumnya. Tips meletakkan benih di dalam rockwool sendiri ada dua macam, ada yang di geletakkan saja di atas rockwool, ada yang nanamnya berdiri sealur dengan rockwool (aduh apa ya istilahnya, moga mengerti ya temans). Sampai saat ini, seed yang dibenamkan sambil berdiri, germinasinya jauh lebih baik daripada yang hanya ditaroh saja, karena dapat mengurangi tingkat kegagalan benih akibat terjebak oleh cangkangnya.
  4. Letakkan semaian di dalam tupperware, lalu tutup kotaknya.
  5. Taruh di atas UPS, CPU, atau apa aja yang hangat). Cara ini manjur lho, jangan khawatir rockwool akan kekeringan karena air yang menguap karena panas yang dihasilkan oleh UPS akan mengembun lagi jatuh ke rockwool.
  6. Cek keadaan bibit 2-3 hari kemudian
  7. Jika sudah ada yang muncul kecambah, segera pindahkan dari luar kotak dan letakkan di tempat yang terkena cahaya (jangan kena matahari langsung ya, nanti hangus) untuk mencegah bibit etiolasi (kurus, tinggi dan langsing).
  8. Setelah muncul daun sejati 2-3 helai, pindahkan bibit ke polibag kecil untuk pembesaran. Jika bibit telah berdaun 6-7 helai, pindahkan bibit ke polibag besar
  9. Siap untuk dibesarkan 😀

 

Nah, gampang kan untuk menyemai cabe? Kalau soal memelihara cabe sampai berbuah, itu perkara lain, hihihi…

Kendala Menanam Carolina Reaper

Carolina Reaper, Cabe Terpedas di Dunia

Semenjak kemunculannya di awal 2013 lalu, hingga saat ini pun pamor Carolina Reaper semakin naik. Cabe terpedas di dunia ini (1,5 – 2 juta SHU) langsung menjadi primadona para grower di seluruh dunia, termasuk di Indonesia. Namun, layaknya primadona, Carolina Reaper termasuk jenis yang sangat jual mahal.

Berbagai tantangan yang dihadapi grower dan hobbis di Indonesia dalam mengembangkan Carolina Reaper. Banyak yang mencoba, namun tak sedikit pula yang gagal bahkan  menyerah yang menyebabkan cabe ini masih pedas (mahal) harganya di kalangan grower.

Jujur saja, Carolina Reaper bukan jenis yang cocok untuk grower yang baru terjun ke dunia cabe hias. Walaupun faktor beginner’s luck terkadang sangat menentukan hoki seseorang, hehehe..

Apa yang membuat Carolina sulit dan tergolong ke dalam jenis cabe yang manja? Berikut ini adalah pengalaman saya selama kurang lebih 4 tahun menanam Reaper.

  1. Germinasi yang lumayan lama

Masa germinasi Carolina rata-rata paling cepat satu minggu hingga satu bulan, tergantung apakah benih yang ditanam merupakan fresh seeds atau tidak. Terkadang kita tidak sabar menunggu hingga terabaikan dan lupa media semai tidak disiram sehingga si cabe pun gagal berkecambah.

  1. Tidak tahan terhadap serangan hama

Layaknya cabe jenis non hybrid, Carolina sangat rentan terhadap hama. Jika hama dibiarkan nangkring lama di pohonnya, si cabe bisa almarhum dalam waktu singkat, atau hidup segan mati tak mau. Berbagai macam hama yang suka dengan cabe ini (dan cabe-cabe lainnya) seperti aphids, thrips, kutu kebul, aneka jenis jamur juga bakteri. Jadi, jika ingin menanam jenis Carolina Reaper, disarankan untuk NON ORGANIK ya guys. Bagi saya pribadi, sedia pestisida sifatnya wajib tidak bisa ditawar-tawar.

  1. Rontok bunga

Hayooo, siapa yang menyerah menanam Carolina karena bunganya rontok? You’re not alone, hahaha. Rontok bunga pada Carolina adalah hal yang lumrah. Apalagi pada bunga-bunga di awal cabang. Carolina cenderung untuk menguatkan akar dan batang dahulu baru kemudian fokus ke pembuahan. Walaupun kamu  beri macam-macam pupuk buah, namun pohonnya masih kecil dan ringkih, jangan berharap buahnya akan nangkring cantik. Cabe ini ini termasuk yang bertajuk banyak dan lebar, bahkan tingginya bisa mencapai 3 meter! Ketika pohonnya subur dan sudah siap untuk produksi buah, tidak diberi pupuk macam-macam pun, buah akan muncul dengan sendirinya. Intinya adalah SABAR! Pernah lho ada yang curhat, cabe nya baru berbuah setelah satu tahun dipelihara. Cabe lain udah bolak balik hidup mati sampai tiga kali, dia baru produksi satu kali , LOL!

Bunga sudah banyak begini, rontok semua

Bunga Carolina yang Rontok

Jenis cabe ini termasuk tipe perennial, yang artinya bisa hidup dalam hitungan tahun. Namun yang membuatnya jadi berumur pendek di tangan kita adalah karena kalah dengan hama.

So, masih mau mengadu nasib dengan cabe berekor yang satu ini? Hihihi…

Mengatasi Hama Leafminer

Walaupun tidak terlalu ganas, hama ini cukup mengganggu. Keberadaan si penggorok daun membuat tampilan tanaman tidak cantik lagi. Leafminer sendiri merupakan telur larva lalat yang bertelur dan menjadi larva dalam jaringan epidermis daun dan menggerogoti daun dari dalam sehingga membentuk jejak seperti aliran sungai.

Jika dibiarkan lama-lama, daun bisa habis digerogoti lho. Hama ini biasanya nongkrong di daun pakchoy, sawi, kalian, tomat, kentang dan sayuran berdaun lunak lainnya. Sebenarnya cara mengatasinya cukup mudah. Saya hanya menggunakan Listerine untuk mengusir leafminer ini.

Caranya adalah, campurkan 1 sdt listerine ke dalam 1 liter air dan semprotkan ke tanaman yang terkena hama (atas dan bawah daun). Akan lebih baik jika daun yang sudah kena dibuang dulu ya, agar tampilan si tanaman menjadi bagus, hihihih…

Cara ini cukup aman karena tidak menggunakan pestisida kimia. Kan ngga enak juga, capek-capek tanam sayur dirumah ujung-ujungnya kita makan pestisida juga, hehehe… 😀

Selamat mencoba, yaa!

Bahaya Silika Pada Sekam Bakar

Sekam bakar atau arang sekam merupakan hasil pembakaran dari sekam padi. Dalam dunia tanaman, sekam bakar ini sangat bermanfaat sebagai campuran media tanam dan media tanam tunggal pada hidroponik. Sekam bakar bermanfaat agar media tanam porous sehingga mengalirkan kelebihan air dengan baik agar media tidak cepat padat.

Sekam bakar juga mengandung kadar silica yang cukup tinggi serta sangat steril sehingga sering digunakan sebagai media hidroponik. Cara membuatnya juga cukup mudah (cara membuat arang sekam DISINI), sehingga media ini banyak digunakan. Bagi saya sendiri sebagai pecinta tanaman, arang sekam adalah media yang wajib ada dan saya pakai dalam tanaman hidroponik, sehingga saya sendiri sering membuat sekam bakar sendiri.

Namun, tahukah kamu kalau kelamaan terpapar arang sekam tanpa pelindung pernapasan dapat membahayakan? Paparan kandungan silica yang terdapat dalam arang sekam dapat menyebabkan penyakit Silikosis. Continue reading

Benih Heirloom, Hibrida Dan GMO

Mungkin kebanyakan dari kita hanya mengenal benih hibrida, karena banyak sekali beredar di Saprotan (Sarana Produksi Pertanian) seperti benih jagung, cabe, tomat, kacang, bahkan sampai pada jenis-jenis bunga juga ada yang hibrida. Namun, pernahkah kita mendengar istilah benih heirloom atau GMO?

Bagi sebagian orang pecinta tanaman, kalangan grower lah istilahnya, mungkin istilah heirloom bukan hal yang asing, karena kebanyakan grower lebih memilih menanam jenis-jenis heirloom dibandingkan hibrida karena merasa tertantang menanam jenis ini dikarenakan perawatan yang agak sulit, atau karena rasa dari tanaman-tanaman heirloom ini lebih enak daripada tanaman hibrida. Lalu, apa pula itu GMO? Yang ini lebih jarang di dengar barangkali, karena belum banyak beredar di Indonesia.

  1. Benih Heirloom

Tomat Ananas Noire

Heirloom adalah benih yang diwariskan dari generasi ke generasi yang penyerbukannya dilakukan secara terbuka (open pollinated) tanpa campur tangan manusia (alami). Benih heirloom ini terus menerus dijaga kemurniannya dari masa kemasa sampai puluhan bahkan ratusan tahun.

Istilah Heirloom lebih banyak dipakai untuk sayuran, tomat misalnya. Di belahan Eropa dan Amerika sana, jenis-jenis tomat heirloom ini masih dilestarikan, dan bahkan dalam periode tertentu mereka mengadakan yang acara semacam Tomato Fest, untuk memperagakan jenis-jenis tomat hasil panen grower yang bertujuan untuk melestarikan jenis-jenis tomat tersebut. Keberadaan benih heirloom ini makin hari makin punah tergerus oleh benih hibrida yang makin mendominasi di kalangan petani dikarenakan sifat unggul dari benih. Continue reading